Monday, October 13, 2008

Info 27/ Project

Video Report Kotagede;
Sebuah Pengantar Dialog Sosial

words by Anang Saptoto
------------------------------------------------------------------------
“Mas, aku pengen handphone yang ada kameranya”. Permintaan ini diutarakan adik saya ketika dia menginjak kelas V sekolah dasar. Cukup sederhana namun membuat saya bertanya-tanya akan esensi sebuah mobile phone dengan tawaran fasilitas perekam foto dan video. Kemajuan teknologi ini semakin membuka aksesibilitas seseorang untuk mencoba memanfaatkan apapun tujuannya. Tumbuh suburnya kemajuan teknologi ini mulai berbuah dengan munculnya ragam video personal yang sering beredar di internet belakangan ini. Hal ini membuat saya pribadi sekali lagi bertanya-tanya, apakah masyarakat sadar akan fungsi dan kekuatan video?.

Pada dasarnya video direkam dengan kamera yang terisi pita magnetik, sehingga menghasilkan gambar dan suara. Industri pertelevisian pada umumnya menggunakan alat-alat video profesional seperti U-Matic, Betacam, Betamax, VHS, S-VHS, DV, DVCam, dan DVCPRO. Sementara, pemanfaatan untuk keperluan pribadi saat ini menggunakan handycam atau Mini DV. Hasil perekamnya dapat ditata menggunakan perangkat komputer. Video dapat dimanfaatkan sebagai media informasi, pembelajaran, penyadaran, atau sebagai media ekspresi semata. Secara fungsi saat ini video telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Namun benarkah kemudahan seperti ini mampu disadari, sehingga memiliki nilai lebih bagi masyarakat luas.

Perekaman dan penciptaan karya video dewasa ini sering di kaitkan dengan beberapa cara pendekatan pada masyarakat. Salah satunya dengan medialogkan kembali isu-isu lokal dengan masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat secara aktif dalam proses dialog mengenai temuan-temuan data dilapangan, hingga mengkonsep data-data tersebut menjadi sebuah ide gagasan yang siap dimediasikan adalah bentuk pasrtisipasi kolaboratif dalam proses awal pembuatan sebuah video.
Sore itu saya dan beberapa teman berbincang mengenai kawasan Kotagede. Banyak hal yang kami bahas, seperti ketidakbecusan pemerintah kota dalam hal ini dinas purbakala dalam menangani renovasi di kawasan situs makam dan masjid Kotagede. Belum lagi masalah sosial seperti prostitusi di kawasan itu. Pemerintah Yogyakarta seolah menutup mata atas banyak hal yang telah terjadi di kawasan bersejarah ini. Kotagede seakan redup dan sayup, sesayup malu matahari yang mulai tenggelam berganti malam.

Menelusuri gang-gang sempit dengan sisi-sisi tembok yang tinggi pada malam hari adalah pengalaman yang unik yang mungkin belum pernah kalian temui sebelumnya. Kami kurang lebih 20 orang, baik dari kalangan akademis, masyarakat umum, dan beberapa warga Kotagede, berjalan-jalan dan mendengarkan cerita dari tokoh masyarakat yang kami temui. Sebuah interaksi lintas generasi, berbagi pengalaman dan sudut pandang. Pak Natsir, adalah salah satu contoh partisipan yang cukup tua namun tetap perkasa mengikuti proses ini. Beliau adalah warga asli Kotagede, yang juga ikut mendirikan yayasan Kanthil. Sebuah lembaga kebudayaan yang konsen dalam pelestarian peninggalan baik secara fisik atau sosial di Kotagede. Lembaga ini dikelola oleh beberapa warga asli Kotagede. Dalam hal ini, Yayasan Kanthil menjadi rekan lembaga lokal dalam setiap proses video report di lapangan.

Video report adalah sebuah pengembangan metode Green Map Yogyakarta. Green Map adalah sebuah gerakan pemetaan eko-kultural global berbasis komunitas lokal dengan sebuah metode yang sangat mudah diadaptasi di tingkat lokal untuk menjelaskan hubungan antara lingkungan alam dan budaya dengan memetakan suatu kawasan lokal. Proses ini dipelopori oleh Green Map System (GMS), sebuah organisasi jaringan global yang dikembangkan sejak tahun 1995 oleh Wendy Brawer dan Modern World Design di New York. Tahun 2002 Peta Hijau Yogyakarta atau biasa disebut Green Map Jogja mengawali pembuatan Green Map di kawasan Jeron Beteng. Sampai tahun 2005, video report dijadikan proyek untuk mengupdate data-data dari Green Map Kotagede tahun 2003. Penggagas video report adalah saya sendiri, sebagai salah satu relawan di komunitas pemetaan Green Map Jogja. Keinginan untuk mencoba dengan pendekatan media yang lebih popular di kalangan muda-mudi generasi sekarang dan fleksibelitas dalam pemutarannya adalah tawaran yang tak bias saya tolak untuk menggunakan medium video. Sampai pada awal tahun 2006, akhirnya video report di Kotagede selesai dibuat dengan hasil beberapa video dan peta data berbentuk buku. Mahasiswa yang ikut berpartisipasi diantaranya ada dari arkeologi, komunikasi, antropologi, dan geografi (UGM), arsitektur (UII), serta mahasiswa pertelevisian (ISI). Perbedaan karakter dan sudut pandang dalam melihat suatu kasus di lapangan sangat terasa. Menurut Pak Natsir keberagaman ini menarik, ide-ide segar akan muncul dalam melihat sebuah realita di suatu kawasan.

Tidak banyak yang mengetahui, makam Kotagede dalam kurun waktu 25 tahun kebelakang ini aktif dan laris manis menjadi lahan prostitusi. Legal atau tidak, yang jelas hal ini sudah menghawatirkan dan menjadi aib bagi sebagian besar warga Kotagede. Ada cerita menarik mengenai penggrebekan yang dilakukan oleh warga. Salah seorang pemuda yang ikut menggrebeg memergoki bapaknya sendiri sedang bermain asyik dengan wanita tak dikenal dibalik tikar yang menyelimutinya. Selain prostitusi, masalah lain adalah proses renovasi makam dan masjid Kotagede. Dinas purbakala yang mempunyai proyek renovasi ini bekerja sama dengan tim perencana, dan pihak pelaksana membuat warga Kotagede geram akibat proses renovasi yang tak kenal aturan. Baik dalam teknis renovasi maupun penyikapan terhadap situs-situs purbakala.

Hal inilah yang mendorong semangat partisipan pada tahapan riset dalam proses video report di Kotagede. “Menyenangkan, jadi tahu banyak mengenai sejarah kota kita sendiri justru dari kusir andong”, kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang partisipan dalam video “Jalur Andong Pasar Beringharjo-Pasar Kotagede” dalam durasi kurang dari 30 menit, yang disutradarai Pitra Ayu seorang mahasiswa Geografi UGM yang mencoba memaparkan sejarah jalur andong dalam dialog antar penumpang dengan kusir andong. Total video yang di produksi video report di Kotagede selain jalur andong adalah makanan khas “Kipo”, “Mitos di Kotagede”, dan “Renovasi Makam dan Masjid Kotagede”. Menurut Pak Natsir, kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilakukan. Selain sebagai proses dialog dengan warga, video report dapat menjadi pengantar sebuah wacana sosial mengenai sejarah dan identitas sebuah kawasan. Akhirnya saya sendiri sepakat dan menyadari meski sebuah kebudayaan akan terus berganti, namun bagaimana video dapat menjadi lorong waktu bagi generasi anak cucu kita.

0 comments: